Categories
Artikel

Efek Lain BANGGA Papua

“Untuk pribadi saya, (pendampingan oleh) mitra ini sangat membantu. Saya sangat berterima kasih,” kata Sikmen Pekei, sekretaris Sekretariat Bersama BANGGA Papua Kabupaten Lanny Jaya. Pernyataan itu dikeluarkannya ketika ditanya pendapatnya tentang pendampingan oleh mitra pembangunan program BANGGA Papua.

Sikmen Pekei yang sehari-harinya berdinas di Dinas Sosial Kabupaten Lanny Jaya adalah satu dari total 312 orang yang pernah mengikuti pelatihan dan pendampingan yang diadakan oleh mitra pembangunan KOMPAK-BaKTI sejak Maret 2018, yang berfokus kepada pelatihan dan pendampingan pada sisi komunikasi di program BANGGA Papua.

Suasana pelatihan komunikasi di Tiom, Lanny Jaya

Pelatihan dan pendampingan itu bermula di Maret 2018, tepatnya di kota Jayapura. Pelatihan pertama adalah pelatihan komunikasi untuk anggota Sekber BANGGA Papua tingkat provinsi. Pelatihan dua hari di tanggal 27 dan 28 Maret 2018 itu bertujuan membekali anggota Sekber Provinsi dengan pengetahuan dan keterampilan komunikasi yang bisa diterapkan dalam melakukan sosialiasi program BANGGA Papua.

Lalu pelatihan bergulir ke beberapa tempat. Agats, ibukota Kabupaten Asmat, Tiom, ibukota Kabupaten Lanny Jaya, dan Enarotali, ibukota Kabupaten Paniai. Bahkan, beberapa pelatihan pun diadakan di tempat lain di luar ibukota tiga kabupaten uji coba tersebut. Sekali waktu, pelatihan komunikasi tingkat lanjut diadakan di Timika, dan sekali waktu juga pelatihan komunikasi untuk anggota Sekber Kabupaten Lanny Jaya yang baru diadakan di kota Wamena, Jayawijaya.

Pelatihan terakhir yang diadakan adalah pelatihan daring menggunakan aplikasi Zoom. Tanggal 7 Juli 2020, belasan peserta dari Sekber Provinsi dan dua kabupaten uji coba (Asmat dan Paniai) menghadiri pelatihan daring mengunggah konten tulisan ke website BANGGA Papua. Pelatihan ini terpaksa diadakan secara daring menyiasati kondisi terbatas akibat pandemi Covid-19.

Dalam rangkaian pelatihan dan pendampingan tersebut yang hingga Juli 2020 total berjumlah 22 pelatihan dan pendampingan, pesertanya datang dari berbagai kalangan. Bukan hanya anggota Sekber tiga kabupaten dan provinsi, tapi juga dari unsur lain. Bidan, petugas kesehatan, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, tokoh agama, tokoh perempuan, kader Posyandu, dan anggota TP/PKK pun pernah menjadi peserta pelatihan.

Mereka yang ikut pelatihan dan pendampingan itu adalah orang-orang yang diharapkan mampu bekerjasama dengan anggota Sekber BANGGA Papua untuk ikut mensosialisasikan program BANGGA Papua di tingkat penerima manfaat.

Didominasi Orang Asli Papua.

Dari total 312 orang yang telah mengikuti pelatihan dan pendampingan oleh mitra KOMPAK-BaKTI, 226 orang atau 72,44% adalah Orang Asli Papua. Jumlah ini tentu menggembirakan, mengingat tujuan utama program BANGGA Papua adalah untuk Orang Asli Papua.

Lebih menggembirakan lagi karena dari jumlah tersebut, jumlah peserta perempuan dan laki-laki nyaris berimbang. Ada 125 orang perempuan atau 40.06% dari total jumlah peserta pelatihan dan pendampingan. Dari jumlah itu, 91 orang atau 72,80% di antaranya adalah perempuan Orang Asli Papua.

Suasana pelatihan komunikasi untuk kader Posyandu, tenaga kesehatan, dan anggota TP-PKK di Paniai

Latar belakang mereka pun beragam. Bukan hanya dari OPD yang ikut terlibat langsung dalam pelaksanaan program BANGGA Papua sebagai anggota Sekber, tapi juga dari kader Posyandu, bidan, tenaga kesehatan, tokoh perempuan, dan anggota TP/PKK. Pelatihan dan pendampingan ini sebenarnya bukan hanya berguna untuk pelaksanaan pekerjaan di dalam program BANGGA Papua saja, namun bisa juga digunakan di pekerjaan lain di luar program. Bahkan di dalam pekerjaan mereka sehari-hari.

“Terasa sekali gunanya (pelatihan ini) karena teman-teman bisa mengaplikasikannya dalam pekerjaan mereka sehari-hari,” kata Eli Yogi, ketua Sekber BANGGA Papua Kabupaten Paniai.

Peserta pelatihan tidak hanya sekadar ikut saja, tapi hasil dari pelatihan itu seperti peningkatan kemampuan dalam komunikasi pun bisa mereka bawa pulang dan jadikan bekal dalam pekerjaan mereka.

“Saya pikir, BANGGA Papua ini memang meningkatkan sumber daya manusia Orang Asli Papua. Pelatihan yang diadakan oleh mitra sangat membantu kami untuk meningkatkan kemampuan dan pengetahuan dalam pekerjaan kami sehari-hari,” kata Eli Yogi dalam kesempatan yang berbeda.

Menilik jumlah peserta berdasarkan etnis yang memang didominasi oleh Orang Asli Papua, maka tentu saja pernyataan Eli Yogi tersebut bisa dibenarkan. Pelatihan dan pendampingan oleh mitra program ini memang diharapkan memberi efek positif untuk para peserta Orang Asli Papua.

Program BANGGA Papua memang memberikan dampak positif, bukan hanya untuk para penerima manfaat yang pemahamannya akan gizi anak meningkat, tapi juga anggota Sekber dan mitra pendukung mereka yang pengetahuan dan keterampilannya meningkat lewat pelatihan yang diadakan oleh mitra pembangunan. Sebuah efek samping yang positif.

Infografis jumlah pelatihan dari 2018 hingga Juli 2020
Infografis waktu dan lokasi pelatihan
Bagikan: